Sabtu, 04 Mei 2013

20 April 2013


20 April 2013

_Katakan tentang rindu yang terkubur dalam peti
Botol kosong terayun dayung
Angin berburu riak ikan
Dalam keruh laut yang tak asin
Karena airmata, tangis
Mengiris tiap detak detik waktu
Mengukir wajahmu
Menjadikan pelangi
Berselimut awan kelam
Dan pada akhirnya
Kerak mengasah rindu
Semakin menghitam
Dijamuan tengah malam
Hanya bersuara
Serangga bertasbih
Tentang tawa
yang telah dilumatnya
Bersama dedaun
Lalu, matahari mengaca
Sinarnya meruas purnama
Datangnya namamu
Wahai Kekasih!
Berbaliklah
Di ujung lorong kesendirianku
Untuk kembali berputar-putar
Diporos cinta
Karena setelah di hari lahirmu
Janji telah terhempaskan
Melengkapi patahnya rusuukku

19 April 2013


19 April 2013

_Akulah laut
Yang menjadi dasar
Adalah kebiruan
Tertanam dalam dada
Sesekali mendayung ombak
Ketika lautku
Terusik
Karang adalah peraduan
Memanggil angin
Memanggil sejuk
Memanggilmu
Pengail manja
Dengan perahu cat hijau
Menyatu langit
Berbau kasturi
Dan lautku
Memendam cinta
Berbatas pantai
Menggelepar janur dan cemara
Ramai mengajakku
Meniduri tiap langkahh bersamamu dalam bahagia

18 April 2013


18 April 2013

_Aku lebih mengangkat dada
Membuatnya lebar-lebar
Meski tak sebidang punggung
Dapat menyusupkan
Pada penampilan sebenar-benarnya
Aku
Akan lebih berbesar telinga
Mengangkat daku
Mendongak
Dantangan akan terbuka
Lebar, langkah menegap-negap dilorong
Dengan pesakitan
Daripada senangan
Hanya mampu lewat dibibirmu saja

17 April 2013


17 April 2013

_Aku
Berada dalam radius yang dangkal
Dengan arah pandangmu
Menyusur petak-petak
Penyiang, pengukir, bertembaga
Memasuki ruang kedap suara, kedap sinar, dan kedap angin
Telah menunggumu bersama  kesendirian
yang datanng meminta mata
Sesejuk pagi penuh purnama
Meninggalkan pekat pelangi
Perempuan datang dalam jam tangan merah muda
Pada arah waktu
Menggantung rindu

16 April 2013


16 April 2013

_Dalam acara perjamuan
Setusuk bambu yang mencongkel
Secarik daging
Pada sela-sela gigi putih itu
Dan dalam gelas kaca bening
Dengan tenang tertuang minuman
jatuh mengenai bibir
Serbet kain kecil
Mengukir benang-benang
Lalu
Membenamkan cerita tentang kata
Kata pagi, sore, dan petang
Kemudian kini dan sebelumnya
Sepiring makanan ringan dipapah tangan
Tanpa sendok
Tanpa pisau
Tanpa garpu bermata empat
Semua menjadi kisah
Yang tak pernah terbukukan
Ramai mengadu
Dan hanya ita berdua
Yang akan melihatnya
Dari atas pelaminan
Dengan penuh ukiran
Dan bunga-bunga
Pesta penyatuan janji kita Selamanya