Selasa, 07 Mei 2013

08 Mei 2013

08 Mei 2013
_Laut berarak waktu
Hutan melewati jendela
Datang dengan membawa kata
Cinta
Sekeranjang hasrat berbentuk hati
Dibawanya
Untuk kemudian dihadiahkan kepadamu
Sedang hati,
Yang bungkus kertas jadi
Penuh dengan janji-janji
Kalimat persaksian
Tentang tawaran bahagia
Meski keberadaannya masih tersamar
Oleh waktu.
Jurang masih menganga lebar
Seperti mulut buaya besar
Dan gigi taringnya
Menjaga rapat penghuni didalamnya
Sekali bertanya
Tentang jeda;
Tentang siapa saja
Namun jawabnya meruang tunggu
Entah kapan dapat panggilan
Sekadar mendengar tentang pengalaman
Di luar pandangan, bersama
Riak laut
Kabarkan petang, sesekali menjerat bintang
Menjauhi mata
Bulan belum juga mengaca
Di laut lepas
jangan katakan lagi
Ubur-ubur yang telah menepi
Lalu karang yang ngambang
Dari tangan penjarah lain
Lautku menyipit
Hanya mengurus angin bertandanag

06 Mei 2013

                                                                                                                                               06 Mei 2013
_Evi
peluk dan rentangkan dadaku
utus juga nuh , ishak
serta nabinabi lainnya
serukan mereka tentang jalan keruh
biar tikungan kembali tertawa
sikap yang selalu terpental
dari dasar kebiruan
persentuhan naluri yang bisu
mengukir tursina berselimut batu
Evi Evi
lembut dada
adalah tambangan yang menyerupa
laut garam
menjadi ujung penantian
pun juga perjamuan mata
peziarah pulaupulau dalam sebrang
sementara, dedaun kunyuk
merenda wajahmu Evi
dan semak belukar itu
merupakan hati terbesarku
di bawah lampulampu menelan senja
tak ada asap perapian
sarapan
pejalan yang lalu lalang
hilang bandul dari kail pancingnya
Evi
adalah harapan sinar
berujung matahari

05 Mei 2013

05 Mei 2013
_Laranta
nganggi' mempe
magili ondema se pote
pegei'na mata
terros apolong
lanjang baktona
ngaes otang
baja bekto settong

04 Mei 2013

04 Mei 2013
_Ibu
ankmu
menjanjikan keluarga mungil
pada seorang bidadari
yang lahir atas nama kesejukan
mata yang melihatnya
terpana
hati yang merasakannya
tercinta
masa yang menganugerahkannya
gusar
ibu
anakmu telah menjadi pemburu
diantara para penembak lainnya
dan sekarang
anakmu menjadi incaran selanjutnya
bukan sebagai tim
melainkan sasaran dari lobang
panas di ujung senapan mereka
peluru telah dilepaskan
mengarah tepat ke hatinya
namun untuk sementara
masih melubangi dindingdinding kaca
ibu
anakmu ini sangat takut
semua yang telah dikatakan
menjadi hutang belaka
dan aku harus mempertanggungjawabkan semuanya
kepadamu ibu
perempuan yang selalu memberi
harapan besar dalam hidupku

03 Mei 2013

03 Mei 2013
_Sampai hela nafas terakhirku
Kamu tetap yang terindah...!!!
Menghujam nadi, darah membeku
Seketika
mata pisau membelah luruh
tik tok jantungku beku
mengejar mimpi yang belum lunas
dari tagihan malam
sedang pagi telah bertemu
dengan cahaya
aku yang telah menyeretmu
raibnya janji
berbuah jejari pelukan
bukan dari tuan muda
ala pakainya bermanik-manik hitam
seorang sahaya pemintaminta

02 Mei 2013

02 Mei 2013
_Ayah
Aku anakmu
Ingin bertemu
Meski jauh jarak semu
Namun rinduku
Membeku

01 Mei 2013

 01 Mei 2013
_Daun Pintu
dari celah tipi
bukan menggambar sumbu
menengah
sejajar
berdua
mengantarkan aroma cinta
dan dari kacakaca
menembus sukmamu
mengabarkan tentang riang
ang kemudian telah pengap
di emperan memenggal sepi
jelas merayu
karena bunga akan layu
di bawah lampu
menjaarak dekat pintu
lebur bersama laut nadiku
yang telah ku pinta
dari beratus kata cinta
dan telah aku pasangkan
menggantung di daun gagang pintu

30 April 2013

30 April 2013
_Perahu Layang Tanpa Nahkoda
mau dibawa kemana?
arah angin beriak dari kaki bukit
membawa jutaan sejuk?
gemericik air melompatlompat
batubatu adalah ruas jejarinya
mau pergi kemana?
lorong buntu di gang seribu
meneriakkan namamu
gelombang gema mengejanya
dan sinar yang berpendar
tak mampu menyeka, menyela
pengap beraroma kesendirian
penat berakar kesepian
gelap menakar kesunyian
adalah panorama berputarputar
keli;ling meja manakan
santap pagi menggiur
pesiangan nyiur bertungkai akar
kian menyatu dengan kedalaman
kau tetes mata air
pembersih dahag riuh itu
yang meminta hawa
datang atas jelmaan aisyah
mengurungmu

29 April 2013

29 April 2013
_Peziarah Pajangan
jam, jam, jam
memejam
mengkerangkengku
dari api,
dari nafas,
dari meter yang ruang hampa
namun jam tetap mengalam
kalam
dibuat asap,
dan ramuan tujuh kembang
menyatu dalam bis berbaris
dengan sukma,
dengan jiwa
pembuka sir
pengrajut humma
sebelas kali dala satu nafasku
sekali berucap
ku kirim lewat tidurmu

28 April 2013

28 April 2013
_Lagulagu telah diperdengarkan
dan jajanan, kue
menggandeng minuman dalam satu nampan
lalu bayang itu
tak terlihat menyelam di bawah redup matahari
yang terkatup rendarenda
dan kita memabuk dengan corak warna-warni kasturi
mencium baunya
namun dalam sepekan dibuat
melati yang meronce di lehernya
terus menjadi persaksian keramat
tentang lagu yang ceritanya telah kita tulis bersama
di lembarlembar pemenggal bahagia
seperti kuncup bungabunga
mekarnya membawa harum
selalu tumbuh langkah
dalam setiap langkah mengalungkan nada cinta
bersama turunnya gerimis
embun sepagi itu
hanya akan menyisakan sejuk berkepanjangan
tanpa suara,
meki lagulagu berdendang ria
petir akan mnyinkir dengan sendirinya
sebab, ditujuh purnama dan seterusnya
tak berguna
dan musim gugur akan menggigil
ditengah kebahagiaan kita
lewat lagulagu itu

27 April 2013

27 April 2013
_Seperti benda-benda yang termantra
dengan bergunaguna
mengikatku dalamdalam
kawat
pakupaku
besi berbaja
terus berlari
bersama gemricik air
dari sungai ke muara
menjadi sumur yang menjadi sumber kehidupan
sihir itu mengunci rapat
kasih yang aku rasa
rasa cinta ang sesungguhnya

26 April 2013


26 April 2013

_Senja yang terbirit
Membenam kelam
Segera berlari, dan menyambut pagi
Tak berawan, tak juga siang
Kesejukan menjadi aura
Akan kasih sayang yang selalu aku damba
Seperti pagiku
Memenjarakan senyum manismu
Di mata, dan menjadi sarapanku
Penuh dengan kebahagiaan
Yang bermuara di hatimu
Akan ku labuhkan
Segala rasa
Segala cinta
Hanya buat kamu

25 April 2013


25 April 2013

_Sepasang sepatu dari rak merah
Berbahan plastik
Menyusun tiga tangga
Tanpa kaki dan renda-renda kelambu
Disamping berkolaborasi dengan dingin
Yang menjulur dari kipas
Tanpa baling-baling

23 April 2013


23 April 2013

_Bertamu di bawah sepotong bulan
Berulur tangan
Dan pecah
Jadikan salah
Lorong menyepi
Tak berkalung duri
Meski sempat menepi
Dibawah pohon berdaun amarah
Sesaat
Tangan berbulan itu
Mengerat dari belakan punggungku
Mencipta hangat dalam ruang
Tanpa pintu, jendela,
Dan batu-batu
Namun berpayung bulan
Yang berpotong awan
Meluapkan cinta bara-bara
Dada
Aku akan tetap mematung
Dalam hati
Kamar yang penuh arti
Kau adalah nafas
Manyeruak garis-garis badanku
Mengairi hidup tak terbendung
Hanya rasa
Dengan juta-juta kisah
Aku, kau bersama rindu

22 April 2013


22 April 2013

_Berteriak cinta
Yang berbugkus pelangi muda di matamu
Lihatlah!
Betapa indah
Sebelum pagi menyunting
Embun perawan jatuh
Menucikan kening, dan
Sekujur badan
Angin yang tak begitu santer
Menjaring lembut kulitmu
Meletup-letup riuhnya membiru
Terpantul dari dasar mata
Aku lupa menemukan pelangi
Pada sela-sela pepohon
Dari langitnya muda
Menuruni tapak pelangi
Tercipta untukmu
Akan mengisahkan tawa yang berkepanjangan
Tentang kita berdua
Prasasti menunggu patah di dahan sejarah.

21 April 2013


21 April 2013

_Langit meneriakkan namamu
Sempat manja
Mengalungkan bunga melati
Yang dipetik pagi
Di Leher
Mengukirnya
Menghunus pedang tegap
Bersarung kain jingga
Menciptakan nuansa indah
Mengerat hati dalam pelukan
Manja itu buah apel bergincu merah
Di pipi
Siapa yang tahan menahan cinta?
Seperti komet melesat
Dan melakukan manover
Yang menukik mata
Saat itu merupakan kemenangan
Takbir, sujud saling berpeluk
Tak kuasa memenjarakan sendiriku
Lantaran kau datang bersama keikhlasan
Menerima cinta